wibistudio

Agama (Islam), Sumber Kebahagiaan Abadi

Rasa bahagia, rasa cinta kasih, rasa santai, dan pengalaman spritual adalah serangkaian gejolak positif dalam diri manusia. Sebaliknya, rasa gelisah, pesimis, sedih, atau marah, adalah sederet gejolak negatif yang terkadang muncul dalam jiwa manusia. Kedua bentuk gejolak ini dapat mempengaruhi kondisi psikologi dan gerak-gerik manusia. Ketika manusia dapat memenuhi kebutuhannya, dia akan mengalami kepuasan dan kebahagiaan. Hal yang penting diketahui adalah bahwa hidup bahagia akan memberikan energi besar kepada manusia sehingga dia dapat beraktifitas dengan maksimal. Untuk itu,  rasa bahagia merupakan perangsang munculnya kekuatan dan potensi manusia. Continue Reading »

wibistudio

Hikmah dan Falsafah Doa

Rasulullah saw bersabda yang artinya “Doa adalah inti ibadah”. Apa sebab doa disebut sebagai inti ibadah? Dan apa perlunya doa bagi kehidupan kita di dunia ini? Saudara sekalian, dalam kesempatan jumpa kita kali ini kami ingin mengajak Anda untuk berbicara meski sekilas tentang doa, hikmah dan falsafahnya. Untuk itu kami ucapkan selamat mengikuti. Continue Reading »

Teluk Persia merupakan kawasan yang penting dan strategis, serta kaya sumber minyak dan gas. Selain itu, Teluk Persia sejak zaman dahulu merupakan jalur lalu lintas barang dan perdagangan. Sedemikian pentingnya Teluk Persia telah menyebabkan kekuatan-kekuatan asing yang tamak berusaha menguasai kawasan ini. Pada zaman lampau, Portugis dan Inggris menguasai Teluk Persia, dan hari ini, AS tengah berusaha menguasai kawasan ini. Iran sebagai negara yang terkuat dan terbanyak penduduknya di kawasan ini, serta sebagai negara yang menguasai pantai terluas di sepanjang teluk ini, tentu saja sangat memperhatikan segala perkembangan yang berhubungan dengan wilayah ini. Oleh karena itulah, secara berkala pemerintah Iran menyelenggarakan seminar yang membahas berbagai topik yang terkait dengan Teluk Persia. Continue Reading »

wibistudio

Perkembangan Iptek Iran Pasca Revolusi

Kemenangan Revolusi Islam telah mengubah banyak hal di Iran. Tentu saja yang paling mencolok adalah perubahan besar di bidang politik, yaitu dengan terbentuknya sistem pemerintahan baru bernama Republik Islam Iran. Dengan berlandaskan kepada sistem politik yang baru dan independen ini, Iran kemudian melakukan lompatan besar di bidang-bidang lainnya, termasuk di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Continue Reading »

wibistudio

22 Bahman, Hari Kemenangan

Tanggal 11 Februari tahun 1979, atau dalam penanggalan Iran tanggal 22 Bahman 1357, cahaya benderang menerangi ufuk Iran dan menebar aroma kehidupan baru. Degup jantung terasa berdetak kencang sementara air mata kegembiraan mengalir dengan deras. Di seluruh pelosok negeri rakyat Iran melantunkan senandung kemenangan. Gerakan massa yang dipimpin Imam Khomeini berhasil menumbangkan kekuasaan Rezim Syah Pahlevi. Kemenangan itu sekaligus membuktikan kekuataan massa tanpa senjata melawan rezim yang terkuat di Timur Tengah kala itu. Kemenangan revolusi Islam membuka lembaran baru bagi negara ini. Continue Reading »

Dengan kehadiran Islam di tanah Arab, agama langit yang terakhir serta paling sempurna telah muncul di muka bumi ini. Agama ini telah meletakkan pondasi peradaban yang besar dan gemilang dalam sejarah. Peradaban Islam merupakan pengibar bendera keilmuan dan kebudayaan di dunia pada abad ke-3 hingga 7 Hijriah. Penekanan Islam atas pendidikan dan penelitian merupakan penyebab utama terbentuknya peradaban yang agung itu. Sumber-sumber Islam, khususnya Al-Quran dan hadis-hadis Rasulullah Saww, dipenuhi dengan serangkaian ajaran yang mengajak ummat Islam untuk menuntut ilmu dan merenungkan alam semesta serta menghormati ilmuwan. Dengan ajaran semacam ini, tidaklah mengherankan bila peradaban dan kebudayaan Islam kian berkembang di pelbagai bidang. Dalam jantung peradaban Islam, para pemikir besar mengemuka di kancah keilmuan dengan mempersembahkan pelayanan yang luar biasa kepada ummat manusia. Continue Reading »

Dalam beberapa hari ini bangsa Iran sedang merayakan kemenangan Revolusi Islam dan berdirinya Republik Islam Iran.  Namun demikian sesungguhnya perayaan kemenangan ini tidak terbatas bagi bangsa Iran saja, melainkan juga bagi dunia Islam, karena gerakan besar ini membawa misi mengajak seluruh warga dunia untuk berjalan ke arah spritualitas dan mengenyahkan segala bentuk ketidakadilan di muka bumi. Continue Reading »

Setelah lama tidak terdengar suaranya, kemarin Ayatullah Sistani mengeluarkan pernyataan. Beliau menyeru kepada seluruh kaum muslimin di Irak untuk menghentikan pertikaian yang ada. Ayatullah Sistani meminta kepada kaum muslimin untuk bersatu. Continue Reading »

wibistudio

Persatuan Islam, Bukan Khayalan

Belum lama ini terasa adanya peningkatan usaha untuk memecah-belah muslimin dan menimbulkan pemusuhan di kalangan mereka. Untuk itulah berbagai media massa, lembaga, tokoh-tokoh politik dan agama yang memiliki keprihatinan besar dalam masalah ini, selalu menyeru umat muslimin untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi gerakan-gerakan dan propaganda beracun yang datang dari Barat. Ayatullah Udhma Sayid Ali Khamenei, Rahbar Revolusi Islam Iran, dalam pidato dan pesan-pesan beliau baru-baru ini, berbicara tentang konspirasi musuh-musuh ini dan membahas upaya pemecahbelahan umat muslimin dari berbagai sudut. Continue Reading »

Perselisihan dan perpecahan dalam sebuah kelompok akan mengakibatkan stagnansi, kegagalan, dan keterbelakangan. Masyarakat yang menginginkan perkembangan harus berupaya menghindari seluruh perselisihan dan perpecahan. Dalam masyarakat Islam, persatuan dan solidaritas, merupakan dua faktor keberhasilan. Sebaliknya, perselisihan dan perpecahan membuka peluang infiltrasi kekuatan musuh. Para penguasa Barat dalam upaya mereka menguasai dan merampas kekayaan negara-negara Islam, hingga kini menghadapi kendala utama yaitu, persatuan dan jiwa resisten umat Islam yang bersumber dari nilai-nilai suci religius. Barat dapat dengan mudah menggapai seluruh tujuannya hanya dengan menyulut perselisihan sepele dan menyibukkan umat Islam dengan perselisihan tersebut. Meski politik ini sudah sejak lama digulirkan Barat, namun kini mereka tampak lebih agresif dan serius menindaklanjutinya. Sebab itu, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al Udzma Sayyid Ali Khamenei, menyampaikan pesan soal bahaya propaganda musuh. Continue Reading »

Nama  : Al-Husain
Gelar  : Sayyidu Syuhada’, As-Syahid bi Karbala
Julukan  : Aba Abdillah
Ayah  : Imam Ali bin Abi Thalib.
lbu  : Sayyidah Fatimah Az-Zahra
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Kamis 3 Sya’ban 3 H.
Hari/Tg] Wafat  : Jum ‘at 10 Muharram 61 H.
Umur  : 58 Tahun
Sebab Kematian  : Dibantai di Padang Karbala, Iraq
Makam  : Padang Karbala, Iraq
Jumlah anak  : 6 orang; 4 laki-laki dan 2 perempuan
Anak laki-laki   : Ali Akbar, Ali al-Autsat, Ali al-Asghar, dan Ja’far
Anak Perempuan   : Sakinah dan Fathimah Continue Reading »

wibistudio

Al-Hurr (Antara Surga dan Neraka)

Wahai sahabat, renungkanlah petikkan sejarah di bawah…

Hurr adalah nama salah seorang panglima tinggi tentara ‘Umar bin Sa’ad yang menghadapi cucu Nabi Saww, Husain bin ‘Alî, atas perintah dari Yazid bin Muawiyah untuk melaksanakan salah satu dari dua perintahnya, yaitu mendapatkan baiat (sumpah setia) Husain bagi kekhalifahan Yazid yang korup, atau membunuh Husain dan semua sahabatnya. Adalah Hurr dan tentaranya yang mula-mula menghadapi Imam Husain, dan kemudian mengepungnya, serta menghalangi beliau dan para sahabatnya untuk mendapatkan air minum.

Pada hari ‘Asyura, Hurr membuat sebuah keputusan yang besar. Persis sebelum pertempuran dimulai, dia meninggalkan posisi dan pasukan yang sedang dipimpinnya, dan bergabung dengan Imam Husain. Dan menjadi syahid pertama yang terbunuh di jalan Allah oleh tentara yang beberapa jam sebelumnya masih berada di bawah komandonya. Nama Hurr berarti “merdeka, lahir sebagai orang merdeka, mulia, orang bebas.”

Takdir terkadang melakukan sebuah permainan. Pabrik penciptaan terus-menerus memproduksi makhluk-makhluk yang tak terhitung jumlahnya: batu-batu, pohon-pohon, sungai-sungai, serangga-serangga, manusia, dan terkadang memperlihatkan sebuah adegan humor, menciptakan sebuah inovasi atau kekecualian: ia menulis puisi, menggambar sebuah lukisan, atau melakukan sesuatu yang unik. Dalam satu kata, dapat dikatakan bahwa benda-benda ciptaan tersebut mempunyai “karakter”. Dari antara rumah-rumah, ada Ka’bah, dari antara semua tembok, ada Tembok Besar Cina; dari antara planet-planet yang mengelilingi matahari, ada bumi, dan… dari semua syuhada, ada Hurr.

Tangan artistik takdir telah menyusun adegan ini dengan tingkat ketepatan dan ketelitian yang paling tinggi. Dan seolah-olah hendak menekankan pentingnya ceritera yang sedang terjadi, ia memilih semua pemain lakonnya dari pemain-pemain yang berkarakter absolut, alias mutlak, dengan tujuan untuk menjadikan ceritanya lebih efektif.

Cerita yang sedang kita bicarakan ini adalah tentang sebuah “pilihan”, sebuah manifestasi terpenting dari arti menjadi seorang manusia. Tetapi, pilihan macam apa? Kita semua dihadapkan pada beberapa pilihan dalam kehidupan kita sehari-hari: karir, teman, isteri, rumah, bidang studi. Tetapi dalam cerita ini, pilihannya jauh lebih sulit: antara baik dan buruk. Dan di samping itu, pilihan tersebut juga bukan dari sudut pandang filosofis, ilmiah, ataupun teologis. Sungguh, pilihan yang sedang kita bicarakan di sini adalah pilihan antara agama yang benar dan agama yang lancung, antara politik yang adil dan politik yang zalim, dengan nyawa sebagai harga yang harus dibayar untuk pilihan yang diambil.

Untuk menekankan lebih jauh sensitifnya situasi, pencipta lakon cerita ini tidak menempatkan sang pahlawan di tengah-tengah antara yang benar dan yang bathil. Alih-alih, si pahlawan adalah pemimpin dari pasukan tentara yang berdiri di pihak yang jahat. Di lain pihak, sutradara lakon ini harus mencari lambang-lambang bagi ceritanya untuk membuatnya efektif. Akankah dia menempatkan Prometheus di satu pihak dan beberapa setan di pihak yang lain? Tapi pemilihan tokoh-tokoh seperti ini akan menjadikan ceritanya terlalu berbau mitos. Bagaimana dengan Spartacus dan Crasius? Tidak, nama-nama ini akan membuat ceritanya bercorak nasionalistis dan memberikan kepadanya sifat bergantung pada kelas sosial. Bagaimana dengan Ibrahim dan Namrud? Mûsâ dan Fir’aun? Yesus dan Judas? Tidak juga. Sebab bagi kebanyakan orang nama-nama ini adalah tokoh-tokoh yang bersifat metafisik dan terlalu “tinggi”, jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Memasang mereka sebagai pemain utama akan mengurangi efek cerita, dan menjadikan orang mengagumi mereka, tapi tidak akan berpikir untuk mengikuti contoh teladan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, tujuan utama cerita ini adalah untuk mengajar, menunjukkan kemampuan manusia untuk berubah, untuk menunjukkan bahwa adalah mungkin bagi seorang awam, bahkan seorang yang berdosa, untuk memutuskan semua ikatan sosial, kekeluargaan dan kelasnya, dan memperlihatkan perubahan yang suci.

Sejarah Islam penuh dengan fenomena kontradiksi. Kedua garis pertentangan yang berawal dari Habil dan Qabil dan yang terus ada di sepanjang sejarah, secara berhadapan dalam berbagai wajah, juga terus berlanjut di dalam Islam. Nah, dalam cerita ini kedua aliran ini sama-sama mengenakan baju Islam, tapi dengan arah menghadap yang berlawanan. Ironisnya, pahlawan kita diharuskan memilih antara ujung-ujung yang paling ekstrim pada masing-masing pihak, yaitu: Yazid vs. Husain.

Sungguh, seandainya cerita ini dikarang oleh seorang pengarang, niscaya dia akan segera bisa dikenali dan diakui karena keaslian dan kualitas seninya… 

Siapa nama pahlawan ini? Bagi seorang tokoh sejarah, apa yang penting adalah peran yang dimainkannya, bukan namanya. Sebab namanya adalah sesuatu yang dipilihkan untuknya oleh keluarganya, sesuai dengan selera orangtuanya. Di lain pihak, jika cerita ini diciptakan oleh seorang pengarang yang memiliki orisinalitas, niscaya dia akan memilih sebuah nama yang relevan dengan peran yang dimainkan oleh pahlawannya. Tetapi dalam cerita ini pahlawan kita telah diberi nama Hurr oleh ibunya, seolah-olah ibunya telah melihat peran sangat peka yang akan dimainkan oleh anaknya nanti. Maka, ketika sang Pemimpin kemerdekaan (Imam Husain) memandangi tubuhnya yang berlumuran darah sesaat sebelum dia menghembuskan nafas yang terakhir, beliau mengatakan kepadanya: “Wahai Hurr, semoga Allah merahmatimu! Engkau adalah seorang yang merdeka di dunia ini dan juga di akhirat nanti, persis sebagaimana arti nama yang diberikan ibumu kepadamu!”

Meskipun Hurr telah memainkan peran yang unik dalam sejarah, namun esensi perannya tidaklah terbatas hanya pada dirinya saja. Makna tindakannya, dalam kenyataannya, mencakup semua manusia, malahan dapat dikatakan mendefinisikan “kemanusiaan”. Tindakannya itulah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya, yang menggaris-bawahi tanggung jawab manusia dan terhadap Tuhan, terhadap sesama manusianya dan terhadap dirinya sendiri. Dan Hurr telah memainkan perannya tidak dengan kata-kata dan konsep-konsep, tetapi dengan cinta dan darah. Jika kita menangkap kedalaman kata-kata Imam Ja’far Shâdiq as. bahwa “Setiap hari adalah hari ‘Asyura dan setiap tempat adalah Karbala, dan setiap bulan adalah bulan Muharram”, maka kita akan segera mengerti perluasan kata-kata ini, yaitu: “dan setiap orang adalah Hurr!”

Sejarah kita, yang berawal dari Habil dan Qabil, adalah manifestasi dari pertentangan abadi antara kubu Tuhan dan kubu Setan, meskipun dalam masing-masing zaman kedua kubu ini diselubungi samaran yang berbeda. Karena itu, dalam setiap masa, setiap orang mendapati dirinya berada pada posisi yang sama dengan Hurr: sendirian, di tengah-tengah, ragu-ragu, di antara dua pasukan tentara yang sama. Di satu pihak, komandan tentara kejahatan berseru kepada pasukannya: “Wahai tentara Allah! Serbu!” dan di pihak lain, seorang Imam (putra Nabi), dengan suara yang bergema sepanjang sejarah, bertanya — bukan memerintah —“Adakah orang yang mau membela aku?” Dan Anda, orang itu, mesti memilih.

Dengan pilihan inilah Anda menjadi manusia. Sebelum menjatuhkan pilihan, Anda bukan apa-apa. Anda hanya suatu eksistensi tanpa esensi, Anda berdiri di tengah-tengah. Jadi, orang yang mendapatkan eksistensi melalui kelahiran, menemukan “esensi” melalui pilihan. Dengan pilihan inilah penciptaan manusia menjadi sempurna, dan inilah tepatnya saat ketika manusia merasakan beban berat di pundaknya dan mendapati dirinya sendirian, karena Tuhan dan alam telah membiarkannya berdiri sendiri dalam membuat keputusan yang penuh bahaya ini.

Sekarang kita bisa menilai pahlawan kita, kita bisa merasakan perjalanan panjang apa yang telah ditempuhnya dalam waktu singkat itu, perjalanan untuk mengubah dirinya dari seorang Hurr yang berdiri di pihak Yazid menjadi Hurr yang membela Husain. Jika dia tetap berada bersama tentara Yazid, maka dunianya akan terjamin. Dan jika dia bergabung dengan pasukan Husain yang jumlahnya kecil, maka kematiannya dapat dipastikan. Saat itu adalah pagi di hari ‘Asyura, dan meskipun pertempuran belum dimulai di lapangan, Hurr menyadari bahwa kesempatan baginya tidak akan lama. Waktu berjalan cepat, dan menit-menit yang berlalu sangat berarti. Badai telah mulai bergolak di dalam dirinya.

Sejak mula, Hurr telah berharap bahwa insiden-insiden yang telah terjadi tidak akan membawa kepada peperangan. Tapi sekarang perang tampaknya tak bisa dihindarkan lagi. Manusia memiliki kemampuan yang terbatas untuk mentolerir rasa malu dan kehinaan, kecuali mereka yang memang jenius dalam dalam hal ini dan bisa mentoleransi kehinaan hingga pada tingkat yang tak terbatas. Tak pernah terlintas dalam benak Hurr bahwa menjadi “pegawai” dalam pemerintahan Yazid akan berarti harus berkomplot dalam tindakan-tindakan kriminalnya. Baginya, pekerjaannya hanyalah sumber penghidupan yang tak ada sangkut pautnya dengan politik ataupun agamanya.

Sekarang dia menyadari bahwa menyatukan kedudukannya dengan agamanya adalah hal yang mustahil. Maka, dengan putus asa dan sebagai langkah terakhir, dia lalu berbicara kepada komandan pasukannya (Umar bin Sa’ad) yang — sebagaimana dirinya — juga enggan terlibat dalam peperangan dan hanya mau menerima tugas yang diberikan kepadanya karena dijanjikan akan diberi jabatan sebagai gubernur propinsi Ray dan Jurjan. Hurr berpikir, apa yang lebih baik dari pada mencapai sebuah solusi tanpa terlibat dalam penumpahan darah cucu Nabi dan keluarganya.

Baik Hurr maupun Umar bin Sa’ad ketika menempuh perjalanan dari istana Yazid ke Karbala bersama-sama, dan keduanya mempunyai status dan kedudukan sosial yang sama. Hurr bertanya kepada Umar: “Bisakah kamu mencari jalan keluar dari situasi ini?”

Umar menjawab: “Engkau tahu bahwa seandainya wewenang berada di tanganku, pasti akan aku akan melakukan apa yang kau usulkan itu. Tapi atasanmu ‘Ubaidullah bin Ziyad tidak mau menerima penyelesaian damai!”

“Jadi, apakah engkau akan berperang dengan orang ini (Husain)?”

“Ya. Demi Tuhan, aku akan terjun ke dalam peperangan yang akibatnya yang paling ringan adalah terpenggalnya kepala-kepala dan terpotongnya tangan-tangan.”

Sekarang, nyata sudah bagi Hurr bahwa dia tidak bisa lagi bermain-main dengan agamanya. Maka kedua rekan itu pun lalu bersimpang jalan.

Bagi Hurr, tentara Yazid yang berjumlah puluhan ribu itu sekarang bukan apa-apa lagi, tak lebih dari sekumpulan wajah yang tak punya arti. Segerombolan besar manusia tanpa pribadi, sekelompok individu tanpa hati. Orang-orang yang berteriak-teriak penuh semangat, tanpa tahu mengapa mereka berteriak-teriak. Serdadu-serdadu yang bertempur tanpa tahu untuk siapa mereka berperang. Dalam sebuah perjalanan, tidaklah cukup menanyakan tujuan saja. Kita juga mesti bertanya tentang darimana berangkatnya. Dengan demikian, panjangnya perjalanan Husain menjadi jelas manakala kita menyadari darimana dia mulai dan di mana dia berhenti, yang semuanya terjadi dalam waktu setengah hari.

Dalam hijrahnya dari Setan menuju ke Allah, Hurr tidak mempelajari filsafat ataupun teologi, tidak pula menghadiri kuliah atau pergi ke sekolah. Dalam kenyataannya “arah” inilah yang memberi arti kepada segala sesuatu: seni, ilmu pengetahuan, kesusasteraan, agama, doa-doa, ibadah haji, Muhammad, ‘Alî…

Setelah memulai perjalanannya, maka sambil mengendarai kudanya, maka dengan perlahan-lahan Hurr meninggalkan pasukan tentaranya menuju ke kelompok Husain. Muhajir bin Aus, yang melihat tingkah laku Hurr, yang tampak gelisah hebat dan cemas, bertanya kepadanya:

“Apa yang terjadi dengan dirimu, Hurr? Aku bingung melihat tingkahmu. Demi Allah, jika aku ditanya siapa orang yang paling pemberani di kalangan pasukan kita, niscaya akan kusebutkan namamu tanpa ragu-ragu lagi. Tapi, mengapa engkau begitu gelisah dan cemas?”

“Aku mendapati diriku berada di antara Neraka dan Surga, dan aku harus memilih di antara keduanya. Demi Allah, aku tidak akan memilih selain Surga, meskipun tubuhku akan dipotong-potong atau dibakar menjadi abu.”

Penciptaan Hurr-pun disempurnakan dan api keraguan telah membawanya kepada kebenaran yang pasti. Dengan perlahan-lahan dia menghampiri kubu Husain. Dan setelah dekat dia lalu menggantungkan kedua sepatunya di lehernya dan merendahkan perisainya (sebagai tanda penyesalan).

“Akulah orang yang telah menutup jalanmu, wahai Husain,” katanya. Dan dia  menolak ajakan Husain untuk beristirahat sejenak. Dia sudah tak sabar lagi.

“Apakah ada taubat bagiku?” tanyanya. Dan dia tidak dapat menunggu jawaban atas pertanyaannya itu. Dia langsung maju ke depan dan menyerang pasukan Umar dengan kata-kata yang paling pahit dan pedas, untuk menunjukkan kepada bekas tentara dan komandannya bahwa dia bukan lagi seorang budak, melainkan seorang merdeka, seorang “Hurr”.

Umar bin Sa’ad, bekas komandannya, menanggapinya dan menembakkan sebatang anak panah, seraya berseru:

“Saksikanlah dan biarkanlah Amirul Mukminin tahu bahwa akulah orang pertama yang menembakkan panah kepada tentara Husain!”

Dan demikianlah pertempuran Karbala dimulai…..

Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.” (Qs. Ali Imran [3]: 86-88)

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Yaa Allah, sampaikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan Keluarganya

Wassalam
</wibi>

wibistudio

Wasiat Imam Husain a.s

Ini adalah wasiat Imam Husain bin Ali a.s kepada adiknya (saudaranya) Muhammad Hanafiah. Imam Husain berikrar kepada keesaan Allah s.w.t tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah. Dan Muhammad saw itu hamba dan utusan Allah s.w.t. Agama yang hak adalah agama yang datangnya dari Allah s.w.t untuk sekalian makhluk . Dia berikrar lagi bahwa surga dan neraka adalah benar dan hari perhitungan pasti akan tiba di mana semua makhluk akan di hidupkan kembali.

Aku keluar dari Madinah bukannya atas dasar pentingkan diri sendiri atau hanya ingin bersuka-suka dan bukan juga untuk mencetuskan kekecohan dan huru-hara tetapi tujuanku adalah semata-mata untuk menjalankan kewajibanku yaitu amar makruf nahi mungkar. Apa yang aku mau dari langkahku ini hanyalah untuk menghapuskan kemungkaran dan menegakkan hukum juga sunnah-sunnah datukku Rasulullah s.a.w dan perjalanan ayahku Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Justru itu barangsiapa dapat menerima hakikat ini dan mengikutiku maka dia telah memilih jalan Allah s.w.t.

Jika siapa menolaknya aku akan tetap berdiri, bersabar dan menegakkannya sehingga mereka (yang ingkar) akan dihukum oleh-Nya yang bijaksana. Wahai abang, aku mewasiatkan pesanan ini dengan taufik dari Allah s.w.t. Aku bertawakal kepada-Nya dan kepada-Nya aku kembali.

KABAR TENTANG KESYAHIDAN

Timbul satu persoalan mengapa Imam Husain a.s sanggup menggadaikan nyawanya sedangkan memelihara nyawa adalah satu kewajiban, tambahan pula dia telah dikabarkan akan kesyahidannya.

Jihad adalah salah satu daripada tuntutan Islam dan kesyahidan itu juga menjadi satu kebanggaan setiap muslim. Telah termaktub di dalam Al-Quran ayat-ayat mengenai jihad dan kesyahidan. Berjuang menentang musuh Islam atau syahid di dalam menyampaikan kebenaran merupakan tanda-tanda orang mukmin. Lantaran itu kemenangan sebuah perjuangan bukanlah syarat utama kandungan ayat tersebut. Allah s.w.t telah berfirman "sesungguhnya Allah membeli diri dan harta orang-orang yang beriman, bahwa untuk mereka itu syurga. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh sebagai janji yang benar bagi Allah (yang termaktub) dalam Taurat, Injil dan Al- Quran. Siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah s.w.t? Sebab itu bergembiralah kamu dengan penjualan yang kamu jual itu. Demikian itulah kemenangan yang besar" Terdapat 9 lagi sifat orang mukmin di dalam ayat yang seterusnya dan oleh karena dengan memiliki sifat-sifat mulia inilah mereka sampai ke tahap jihad.

Secara keseluruhan kita telah mengetahui betapa besarnya arti sebuah perjuangan dan kesyahidan. Apakah ia wajar apabila jihad menjadi satu kewajiban kepada setiap muslim, tetapi ia terkecuali untuk Imam Husain sedangkan Imam sebagai penjaga Al-Quran dan Islam. Jika Imam Husain a.s tidak menyempurnakan kewajiban ini, siapakah lagi yang harus menunaikannya. Dan jika Imam dan ahli keluarganya mengorbankan nyawa mereka bukan karena menjaga marwah Al-Quran dan Islam, apakah tujuan sebenar mereka? Siapakah lagi yang layak untuk menyempurnakan amanat penting ini?

Sudah pasti jawabannya tidak lain dan tidak bukan hanyalah Imam Husain a.s. Tujuan utama perginya Imam Husain a.s ke Karbala untuk menegakan yang makruf dan mencegah kemunkaran demi menjaga kesucian Al-Quran juga kesyumulan Islam yang telah dibawa oleh datuknya saw supaya tidak tercemar oleh kebatilan. Tugas ini lebih besar daripada memelihara nyawanya sendiri karena melibatkan semua dunia Islam. Ya, untuk melakukan pertukaran yang bermakna itu Imam Husain bin Ali a.s mempunyai syarat-syarat yang membolehkan dia bertindak sedemikian. Disamping itu, tanggungjawabnya sebagai seorang Imam melayakannya untuk memilih jalan terbaik supaya Al-Quran dan Islam tetap unggul. Oleh karena itu, Imam Husain bin Ali a.s mengambil keputusan untuk syahid.

ADAKAH IMAM HUSAIN AS TERPAKSA?

Apabila kita melihat jawaban Imam Husain a.s kepada saudaranya Muhammad Hanafiah, Ummu Salamah dan adiknya Hazrat Zainab a.s mengenai kepergian ke Karbala, kesemuanya menunjukkan peristiwa asyura adalah kehendak Allah s.w.t. Dalam arti kata lain segala pengorbanan mereka, titik darah para syuhada Karbala dan keperitan yang ditanggung oleh tawanan Karbala berlaku di atas kemauan Penciptanya, Allah s.w.t. Jika ini kehendak dan takdir Ilahi, maka wujudlah kekeliruan juga kesangsian tentang pengorbanan yang tidak ternilai oleh Imam Husain dan ahli keluarganya serta sahabat-sahabat yang lain.

Akan tetapi timbulnya persoalan yang sedemikian dengan kurangnya pemahaman mengenai masalah kehendak dan takdir. Kehendak dan takdir Illahi mempunyai 2 cabang yaitu taklifi dan takwini. Takdir Illahi takwinilah yang kita semua akur dengan keputusan yang telah ditetapkan dimana sekalian hamba terpaksa menurut apa saja, seperti kelahiran dan kematian, penciptaan langit dan bumi, kejadian kiamat dan lain-lain.

Sehubungan itu, kita semua adalah hamba yang bebas memilih jalan kita sendiri dengan adanya takdir Illahi taklifi atau tasyri. Allah lebih mengetahui apa yang akan berlaku dan mengetahui akan yang baik atau yang buruk. Allah s.w.t akan memerintahkan kita melakukannya jika hal itu yang terbaik dan akan melarang jika hal itu yang mungkar. Dengan adanya larangan dan suruhan inilah membuktikan keputusan di tangan kita sendiri dan kita mempunyai hak untuk memilih jalan masing-masing (takdir taklifi). Contohnya Allah s.w.t memerintahkan kita semua berpuasa, sembahyang, mengerjakan haji dan berjihad. Kita dapati kesemua ini adalah kehendak Allah s.w.t. Jika kesemua suruhan ini adalalah takdir Ilahi takwini maka tidak ada makna suruhan yang diperintahkanNya. Lantaran itu, tidak dinafikan kesemua ini adalah kehendak Allah s.w.t, tetapi hamba-hambanya telah diberi kebebasan memilih dan membuat keputusan sendiri (apakah mengikuti perintah-Nya atau tidak). Kejadian syurga dan neraka juga akan menjadi sia-sia jika persoalan ini tidak benar.

DUA KEISTIMEWAAN

Setiap peristiwa yang berlaku semestinya meninggalkan kesan yang dinamakan sejarah. Sejarah inilah yang telah dan akan mengajar kita supaya lebih matang untuk menghadapi apa yang bakal berlaku. Dalam peristiwa karbala terdapat 2 keistimewaan Imam Husain a.s.

1. Sepertimana yang telah kita semua ketahui, setiap Imam mempunyai ilmu keimamahannya. Yaitu ia dapat mengetahui apa yang akan berlaku. Ini adalah salah satu keistimewaan para a’immah yang dianugerah oleh Allah s.w.t. Sebelum tiba di tanah Karbala, Imam telah mengetahui tentera Kufah akan menentangnya tambahan pula Farazdaq telah berkata kepada Imam Husain a.s "Hati-hati mereka bersamamu akan tetapi pedang-pedang mereka bersama Yazid". Tidak perlu dipertikaikan lagi tentang pangkat dan maqam Husain bin Ali yang dia memang seorang Imam. Adanya bukti seperti ini sudah pasti Imam Husain bin Ali a.s memiliki ilmu keimamahannya dan ini hanya wujud dalam kewujudan seseorang Imam.

2. Sifat-sifat terpuji dan mulia juga telah ditonjolkan oleh Imam Husain a.s sebagai petunjuk kepada kita semua. Imam Husain a.s dan para sahabat telah mengajar kita tentang keikhlasan, kesetiaan dan kehambaannya kepada Allah s.w.t. Para pengikut Imam Husain a.s tidak pernah menanyakan apakah upah mereka atau ganjaran yang bakal mereka terima hasil dari peperangan Karbala. Malah Imam dan para pengikut benar-benar ikhlas dan telah sampai ketahap kezuhudan masing-masing. Tetapi lain pula ceritanya apabila kita melihat pihak Yazid. Dari setiap mulut tentara Yazid pasti muncul persoalan apakah bagian kami?

Ternyata Imam Husain a.s dan para pengikutnya ikhlas dan ridha atas keputusan mereka. Demi agama yang telah diamanahkan oleh Allah, mereka sanggup mengorbankan nyawa sendiri. Rentetan dari itu nilai-nilai kehambaan juga telah wujud dalam diri mereka. Mereka rela menghambakan diri yang tidak akan wujud tanpa pencipta. Walaupun di dalam keadaan darurat tanpa diberikan setitik air untuk diminum ataupun untuk berwudhu, mereka tetap mengerjakan apa yang diperintahkan yaitu mengerjakan solat. Sewaktu menunaikan solat timbul pula sifat-sifat setia kawan. Mereka sanggup mati menahan dan menghalang panah-panah mengenai sahabatnya yang sedang menunaikan solat timbul pula sifat-sifat setia kawan. Mereka sanggup mati menahan dan menghalang panah-panah mengenai sahabatnya yang sedang menunaikan kewajiban solat zuhur dengan menjadikan tubuh mereka dinding tempat sahabatnya mengerjakan solat.

Kemenangan Imam Husain bin Ali a.s di dalam perang Karbala ialah dengan tidak tunduknya mereka kepada kuasa kebatilan Yazid dan patuhnya mereka akan kehendak Islam agar tetap unggul. Akan tetapi kemenangan zahiriah itu tidak akan tercapai tanpa sifat-sifat maknawiah yang dimiliki oleh mereka. Oleh karena tempat tujuannya Allah s.w.t maka kemenangan hakiki menjadi milik mereka (Ahlulbait).

IMAM MEMATIKAN HUJJAH

Di dalam peperangan manapun, Islam tidak mengajarkan kita memulainya. Biarlah pertempuran itu tercetus dari pihak lawan. Imam Husain a.s memang tidak mau mencetuskan peperangan walaupun semua laskar Yazid telah bersedia untuk mengangkat pedang-pedang mereka. Laskar Yazid telah memblokir air sungai eufrat agar tidak sampai kepada tentara Imam Husain a.s namun begitu Imam Husain a.s tetap berkhutbah tentang pesan ayahnya Ali bin Abi Thalib a.s yaitu "Jangan sekali-kali bermusuhan dengan Ahlul-bait".

Manusia selalu alpa dan mungkin dengan kata-kata Imam Husain a.s pada saat akhir itu dapat menyadarkan mereka semua. Imam Husain a.s mengharapkan ada orang yang akan memahami peringatan terakhirnya. Apabila keadaan menjadi lebih tegang Imam Husain a.s mengambil sebuah al-Quran lalu menjunjungnya seraya berkata di hadapan barisan tentara Yazid " Aku adalah Imam dan pemimpin kamu semua. Al-Quran ini adalah kitab dan kalam Allah s.w.t. Apa yang telah aku lakukan sehingga darahku telah halal untukmu? Bukankah aku adalah anak dari puterinya Rasulullah s.a.w (Fatimah az Zahra) yang kamu sanjungi dan hormati ketika dahulu? Apakah kamu semua tidak mendengar kata-kata dari Rasulullah s.a.w bahwa aku dan saudaraku al-Hasan a.s adalah penghulu pemuda syurga? Jika apa yang aku katakan ini tiada kebenarannya, tanyalah Jabir, Zaid bin Arqam dan Abu Said al-Khudri. Bukankah Ja’far Thayyar itu pamanku?".

Tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan Imam Husain a.s kecuali Syimr. Dia menjawab "Sekarang engkau akan masuk neraka". Imam Husain a.s dengan terkejut menjawab kata-kata Syimr, "Allahu akbar, datukku telah menceritakan bahwa baginda telah bermimpi dan di dalam mimpi itu baginda menyaksikan kejadian yang menjijikan yang mana seekor anjing sedang menjilat darah ahlul-baitku". Imam Husain a.s menyambung kata-katanya lagi " Aku merasakan anjing itu adalah kau wahai Syimr".

Namun begitu Imam Husain telah mematikan hujjahnya dengan memberi khutbah terakhir kepada pengikut-pengikut Yazid, walaupun di dalam keadaan yang sangat genting dan tidak mempunyai sedikit waktupun untuk berkhutbah. Imam Husain a.s tidak mau ada yang menyalahkan dirinya karena tidak menyampaikan amanah Allah s.w.t. Dalam  keadaan apapun Imam Husain a.s tetap patuh pada perintah Rabbul Jalil Allah swt.

SEBAB KEMURKAAN ALLAH S.W.T. 

Selepas tercetusnya peperangan, sebilangan daripada tentara Imam Husain bin Ali a.s telah pergi menemui yang Maha Esa dan mengecap cawan syahadah kenikmatan syurga masing-masing. Pada ketika itu, Imam Husain a.s membelai janggutnya lalu berkata, “Di suatu ketika Allah s.w.t memurkai kaum yahudi karena mempercayai Allah s.w.t mempunyai anak. Kemurkaan Allah s.w.t pada kaum masihi dikarenakan mempercayai wujudnya 3 tuhan. Dan Allah s.w.t juga bertambah murka kepada kaum yang menyembah api karena menjadikan matahari dan bulan tuhan mereka. Puncak kemurkaan Allah s.w.t juga kepada kaum yang membunuh anak lelaki puterinya Rasullullah s.a.w yang setia kepada Penciptanya.”

DISAAT SYAHIDNYA HABIB BIN MAZAHIR

Satu hari dari hari-hari kesedihan, diwaktu mengerjakan solat zuhur, Imam Husain a.s meminta para tentara menghentikan peperangan untuk solat. Salah seorang daripada tentara Yazid, Hasin bin Namir menjawab dengan laungan yang kuat "Solat apa yang kamu ingin lakukan? Bukankah solat kamu semua tidak diterima Allah s.w.t?"

Habib bin Mazahir marah ke hadapan setelah mendengar jawaban dari Hasin. Perasaannya yang makin membara membuatkan ia menjawab kembali kata-kata Hasin tadi. "Hanya kamu saja yang menganggap solat ahlul-bait Rasulullah tidak dikabulkan dan merasa solat yang dilakukan oleh keledai seperti kau saja yang diterima oleh Allah s.w.t". Kata-kata Habib bin Mazahir membuatkan Hasin dan prajuritnya marah walaupun Habib bin Mazahir lebih tua dari Hasin akan tetapi dia masih boleh menumpaskan pihak lawan. Namun begitu, oleh karena bilangan mereka semakin bertambah mereka dapat menjatuhkan Habib bin Mazahir sahabat Imam Husain.

Imam Husain bin Ali a.s duduk menemani jenazah Habib bin Mazahir yang telah tercabik-cabik dan dalam keadaan tidak berkepala seraya berkata " Duhai Belahan tubuhku, terbunuhnya para sahabatku sepertimu adalah karena taat kepada perintah Allah S.W.T.”

KATA-KATA IMAM HUSAIN A.S DISAAT KEMATIAN MUSLIM BIN AUSAJAH

Pada detik-detik terakhir kematian Muslim bin Ausajah, Imam Husain a.s duduk menemaninya. Imam dengan penuh sifat-sifat kasih sayang yang sentiasa terbayang diraut wajahnya kelihatan tenang sambil mengucapkan tahniah dan selamat jalan pada Muslim. Tahniah karena akan sampai kepada kejayaan hakiki dan selamat jalan karena akan meneruskan perjalanan ke destinasi sesungguhnya.

Jelas kita tidak mampu untuk membayangkan raut wajah Imam Husain ketika melihat dan meratapi sahabatnya itu. Sifat-sifat penyayang yang telah diwarisi dari ibunya Fatimah Az-Zahra dan ayahnya Ali Al-Murthada dan datuknya Muhammad Al-Mustafa mengeratkan lagi hubungannya dengan para sahabat. Dengan sifat-sifat yang penyayang inilah mereka menyampaikan risalah Allah s.w.t. Apabila sahabatnya memandang Imam Husain a.s, dia semakin sayang dan cintanya terhadap cucu Rasulullah saw begitu mendalam. Imam Husain a.s meletakkan tangannya di bahu Muslim bin Ausajah, perlahan-lahan memegang lehernya lalu mencium kiri dan kanan pipinya dengan kasih sayang.

Imam Husain a.s mencium dahi Muslim dengan penuh kasih sayang dan penuh tanggungjawab terhadap sahabatnya. Kata-kata terakhir keluar dari mulut lemah Muslim " Aku merasa bangga dapat mengecapi kasih sayang dari anak Rasullullah saw dan aku merasa gembira yang teramat sangat. Siapa yang lebih bertuah dariku di mana anak Rasulullah s.a.w meletakkan pipinya ke pipiku". Muslim bin Ausajah menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam keadaan gembira dan ridha. Innalillahi wa innailaihi raaji’uun. Laknat atas para pembunuh keluarga Nabi saw.

KEMBALINYA SI KECIL IMAM HUSAIN A.S  (ALI ASGHAR) KE RAHMATULLAH

Thabari telah meriwayatkan dari Uqbah bin Basyir Asadi riwayat dari Imam kelima Muhammad Baqir a.s. Uqbah bin Basyir Asadi adalah dari kaum bani Asad. Imam Baqir a.s berkata "Wahai Uqbah! Kaummu masih ada hutang darah dengan keluarga Rasulullah s.a.w". Imam Baqir a.s menerangkan kepada Uqbah dengan lebih jelas. "Pada peristiwa Asyura salah seorang daripada anak lelaki datukku Imam Husain a.s telah syahid di tangan bani Asad." Imam Baqir menyambungnya lagi a.s "Sewaktu air telah diblokir untuk sampai ke khemah-khemah Ahlulbait, Imam Husain a.s telah meminta Ali Asghar dibawa kepadanya. Dengan harapan, Imam mengangkat Ali Asghar anaknya yang masih bayi dengan kedua belah tangannya seraya berkata "Wahai ahli Kufah ! Aku tahu kamu semua menentangku tapi apakah anak kecil ini harus menanggung apa yang ditanggung olehku sekarang. Kalau kamu memblokir air kepadaku maka berikanlah kepada anak kecil yang tidak berdosa ini". Belum sempat Imam Husain a.s memeluk anaknya itu, satu anak panah telah mengenai leher Ali Asghar. Lalu Imam Husain a.s menadah titisan darah yang mengalir dari leher anak kecilnya dan menyimbahkannya ke langit. Anak panah itu telah dilepaskan oleh salah seorang daripada kaummu Bani Asad".

Thabari meriwayatkan lagi selepas Imam Husain a.s menyimbah darah Ali Asghar ke langit dia berdoa " Ya Allah ! Jika di dunia ini kemenangan bukan milik kami maka kami inginkan kemenangan yang besar di akhirat nanti. Hanya Kau yang layak membalas perbuatan mereka". (Laknat Allah atas Bani Umayyah seluruhnya)

KEBEBASAN DAN KELELAKIAN YAZID DAN TENTARANYA TERGADAI

Khawarizmi menyatakan Imam Husain a.s dan pengikutnya yang masih ada telah berperang tanpa henti pada hari ke sepuluh Asyura dan telah menumpaskan banyak musuh-musuhnya. Oleh karena itu pihak lawan telah membuat keputusan untuk menjatuhkan Imam Husain a.s yang menjadi semangat kepada pengikutnya. Tentara Yazid mengawali serangan ke atas khemah-khemah yang didiami oleh golongan kanak-kanak dan wanita Ahlulbait. Imam Husain a.s dengan suara yang lantang melaungkan "Wahai pengikut keluarga Abu Sufian ! Kalau engkau tidak ada agama dan tidak takut pada hari kiamat sekurang-kurangnya hiduplah kamu dalam kebebasan. Jika kamu dari golongan arab dan tahu datuk-datuk kamu disanjungi karena kemuliaan dan kebesaran mereka maka peliharalah kemuliaan kamu itu".

Syimr menjawab "Apa yang kau katakan Husain?" Imam menjawab "Aku adalah lawanmu dan kau adalah lawanku. Kenapa kau libatkan kanak-kanak dan wanita ini? Tidakkah kau merasa malu menentang kanak-kanak dan wanita-wanita ini? Jangan kau coba melukai mereka. Sehingga aku masih hidup, aku akan mempertahankan mereka dan selagi hayat masih ada jangan kau berbuat apa-apa kepada mereka". Syimr menjawab lagi " Baiklah, kalau itu yang kau inginkan aku setuju". Syimr yang berwajah seribu kekejaman dan kekejian telah mengerahkan tenteranya supaya hanya menentang Husain dan tenteranya saja sehinggalah kesemuanya menuju jalan syahid.

Mungkin apabila dilihat secara global, insiden tadi hanyalah menonjolkan kata-kata Imam Husain a.s dengan Syimr bin Jausyan di hari ke sepuluh Asyura saja. Ia juga sudah dianggap sebagai peristiwa yang benar-benar menyayat hati di dalam sejarah Islam yang suci. Tetapi hakikatnya di sini dari peristiwa Karbala itu, Imam Husain a.s ingin menyampaikan satu pernyataan universal kepada dunia untuk sepanjang zaman. Memang tidak dapat dinafikan semua penghuni dunia tidak berpegang pada undang-undang Ilahi karena bukan semuanya menjalani kehidupan sebagai muslim. Namun begitu di dunia kita dari dahulunya telah tercipta satu undang-undang antara bangsa di mana semua penduduk dunia memelihara dan mematuhi hukum yang telah ditetapkan. Setiap negara yang berhadapan dengan masalah peperangan, hanya kaum lelaki yang akan menuju ke medan pertempuran. Pihak yang menang tidak berhak menganiayai kanak-kanak dan wanita-wanita kecuali menjadikan mereka sebagai tawanan.

Islam adalah agama yang suci dan pastinya mempunyai undang-undang tersendiri seperti yang telah termaktub di dalam Al-Quran. Kita dilarang menghianati orang lain dan harus menyayangi sesama Islam seperti kita menyayangi diri kita sendiri karena orang-orang Islam itu adalah bersaudara. Islam juga menegaskan supaya jangan melewati batasan yang telah ditetapkan. Di dalam surah Al-Baqarah ayat 190 Allah s.w.t telah berfirman "Perangilah olehmu pada jalan Allah akan orang-orang yang memerangi kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak mengasihi orang-orang yang melampaui batas". Ayat ini menunjukkan bahwa janganlah kita bermusuhan dengan orang-orang lain kecuali mereka yang berperang dengan kita saja. Rumah-rumah mereka jangan dihancurkan, keturunan mereka jangan dihapuskan, air jangan disekat, wanita dan golongan yang tidak berdaya jangan dianiaya dan yang melarikan diri jangan dibunuh. Sehingga kata-kata hinaan juga jangan dilemparkan kepada mereka yang tidak berdaya.

Apabila melihat kembali pada peristiwa Asyura, kita dapati Syimr dan pengikutnya bukan saja telah melanggari undang-undang Islam bahkan undang-undang dunia pun mereka lewati. Syimr berperang atas tuntutan nafsu (kemarahan) bukan seperti Imam Husain a.s berjuang karena tuntutan dan tanggungjawab kepada agama. Sifat kemanusiaannya telah hilang apabila emosi buas menguasai diri. Dia bukan saja melepasi batasan dunia dan Islam malah kelelakiannya juga tergadai ketika menyerang dan mengepung khemah kanak-kanak dan wanita sejurus selepas kesyahidan Imam Husain a.s dan para pengikutnya serta penyiksaan terhadap tawanan dari Karbala hingga ke Syam.

MUNAJAT TERAKHIR IMAM HUSAIN A.S

Berdasarkan nukilan Syeikh Taifah dari Syeikh Tusi (Misbahul Mujtahid) dan dari marhum Syed bin Tawus (Iqbal). Pada detik terakhir kehidupan Imam Husain a.s bermunajat kepada Allah s.w.t disaat rebahnya ke bumi. Dia telah membuka matanya dengan perlahan-lahan memandang ke arah langit yang turut bersedih di atas peristiwa di tanah Karbala.

Imam Husain a.s berdoa kepada Pencipta sekalian alam "Ya Tuhanku ! Agungnya ketinggian-Mu, kerasnya marahMu, kekuatanMu mengatasi segala kekuatan, Kau tidak bergantung (memerlukan) kepada makhlukMu dan ciptaanMu di bawah penguasaanMu seperti apa yang Kau inginkan. RahmatMu dekat kepada makhlukMu, janjiMu benar, nikmatMu sempurna, ujianMu indah, Kau dekat kepada hamba-hambaMu ketika Kau dipanggil, Kau berkuasa di atas ciptaanMu, Kau menerima taubat mereka yang memohon kepadaMu, Kau bertindak di atas kehendakMu, Kau tidak meminta di syukuri apabila Kau disyukuri, Kau tidak meminta diingati apabila Kau diingati , aku memanggilMu karena memerlukanMu, aku mendekatMu seperti seorang fakir. Takutku kepadaMu seperti orang yang di dalam seribu ketakutan, aku menangis seperti orang yang di dalam kesedihan, aku memohon pertolongan dariMu seperti orang yang lemah, aku berserah kepadaMu seperti orang yang memadai (mencukupi).”

“Ya Tuhanku ! Hukumkanlah (adili) diantara kami dan diantara kaum kami apabila mereka menipu dan membohongi kami. Mereka meninggalkan (tidak menolong) kami dan membunuh kami keluarga ahlulbait NabiMu kekasihMu Muhammad s.a.w yang telah dipilih untuk menyampaikan risalah (wahyu). Dan jadikanlah untuk kami dari setiap urusan kami kemudahan dan jalan keluar. Aku bersabar di atas qada’dan qadarMu, wahai Tuhan yang tiada Tuhan lain selainMu. Wahai Yang membantu mereka-mereka yang memerlukan bantuan. Tiada Tuhan lain bagiku selainMu. Aku bersabar di atas hukum dan takdirMu. Wahai Pembantu yang tiada pembantu bagiNya. Wahai yang sentiasa ada (kekal) dan tidak berpenghujung. Wahai Penghidup para yang mati, Wahai yang berkuasa di atas kesemuanya, hukumkanlah (adili) diantaraku dan mereka dan sesungguhnya Kau adalah sebaik-baik Penghukum.”

Sumber:
AHLUL-BAIT RESEARCH CENTRE
6 Muharram 1421H

Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.” (Qs. Ali Imran [3]: 86-88)

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Yaa Allah, sampaikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan Keluarganya
Serta laknat Allah yang amat pedih semoga tertimpakan kepada seluruh pembangkang,
dan pembunuh keluarga suci ahlulbait Rasulullah saw!

Ya Allah berilah petunjuk dan hidayah bagi kami dan mereka
yang belum atau tidak mengenal wilayah Ahlulbait
untuk berpegang teguh kepada tali Allah (Rasul & Ahlulbait)
Ilahi Amiin…

Wassalam
</wibi>

wibistudio

Eksekusi Saddam, Nasib Akhir Sang Diktator

Di hari-hari terakhir tahun lalu, dunia telah terbebas dari seorang diktator penumpah darah dan pengobar perang. Saddam Husein, bekas penguasa Irak, yang memenuhi masa-masa kekuasannya dengan kejahatan-kejahatan besar, setelah menjalani proses pengadilan yang bertele-tele, akhirnya di jatuhi vonis mati di tiang gantung, yang dilaksanakan pada pagi dini hari tanggal 30 Desember.

Saddam lahir ke dunia tahun 1937, dan sejak masa kecil sudah terbiasa dengan kekerasan. Pada tahun 1957, Saddam bergabung ke Partai Ba’ats, yang kemudian merancang dan melakukan teror terhadap Abdulkarim Qasim pada tahun 1959, pemimpin Irak saat itu. Akan tetapi aksi teror ini mengalami kegagalan. Menyusul kudeta Partai Ba’ats tahun 1968, Saddam naik sebagai wakil pertama Ahmad Hasan Al-Bakr, Presiden Irak saat itu. Selama 11 tahun duduk sebagai wakil presiden, Saddam telah menunjukkan kemampuannya dalam melancarkan pembantaian, pembunuhan, dan penciptaan suasana kritis di Irak. Akhirnya, pada tahun 1979, Saddam berhasil menyingkirkan Hasan Al-Bakr, dan duduk sebagai gantinya.

Begitu memegang tampuk kekuasaan sebagai presiden Irak, Saddam segera dan dengan sangat hebat, menyingkirkan para pesaingnya dan melakukan pembersihan Partai Ba’ats di negara ini. Saddam membunuhi sejumlahbesar anggota partai ini yang tidak ia percaya dan siapa pun yang tidak menyetujui ambisi kekuasaannya. Dalam rangka meyakinkan diri bahwa dialah satu-satunya penguasa dan pemerintah di Irak, maka selain jabatan presiden, Saddam juga menguasai jabatan sebagai pemimpin Partai Ba’ats, Panglima Militer, Ketua lembaga-lembaga intelijen, dan jabatan-jabatan penting lainnya. Dengan demikian tampillah Saddam sebagai diktator yang paling lengkap dan tanpa saingan di Irak; yang siap setiap saat untuk menciptakan tragedi kemanusiaan sebesar mungkin. Karena ketika kekuasaan tanpa batas dan tanpa kontrol berada di tangan seorang lalim, maka ia hanya akan melahirkan kejahatan dan tragedi mengerikan.

Para pemimpin diktator dan penumpah darah, bukan hanya tidak memiliki tempat di tengah masyarakat, bahkan mereka memandang masyarakatnya sendiri sebagai musuh. Saddam pun memiliki watak seperti ini. Oleh karena itu, ia hanya menaruh kepercayaan kepada sejumlah kecil orang-orang di sekitarnya. Di sepanjang kekuasaannya yang hampir seperempat abad, sebagai raja di raja Irak, Saddam juga menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak menaruh kepercayaan dan penghormatan kepada para pejabat tinggi negara ini. Dalam salah satu sidang kabinet pemerintahan, Saddam menembak mati salah seorang menterinya karena sang menteri ini mengungkapkan sejumlah hakekat yang tidak disukai oleh Sang Diktator. Bahkan para menantu Saddam pun tidak juga selamat dari kekejamannya, dan mereka dibunuh oleh para algojo suruhan Saddam. Mahir Abdurrasyid, adalah salah seorang komandan tinggi militer Irak, dan salah seorang pembantu Saddam yang terkenal, dalam agresi rezim ini ke Iran. Akan tetapi, seusai perang, hanya karena khawatir pejabat militer terkenal ini akan merebut kekuasaannya, Saddam mengeluarkan perintah pembunuhannya.

Ketika kita ketahui Saddam sedemikian bengisnya dalam memperlakukan orang-orang dekat bahkan keluarganya sendiri, maka dapat kita bayangkan bagaimana perlakuannya terhadap rakyat Irak, terutama mereka yang membencinya dan menentang kekuasaannya. Sesungguhnyalah, Saddam merupakan manifestasi kekejaman dan kebengisan di sepanjang masa kekuasaannya. Dalam pandangan Saddam, rakyat adalah orang-orang yang harus sepenuhnya taat kepadanya, atau jika tidak, mereka harus dienyahkan dari muka bumi ini. Menghadapi pemimpin diktator seperti ini, rakyat Irak berkali-kali mengadakan perlawanan. Warga Irak suku Kurdi, baik yang bermadzhab Sunni maupun Syiah, demikian pula warga Syiah selain Kurdi yang secara keseluruhan merupakan mayoritas mutlak penduduk Irak, adalah pihak yang paling sering berurusan dengan Saddam.

Pada dasarnya Saddam adalah orang yang menentang agama. Ia adalah pemimpin Partai Ba’ats yang beraliran komunis dan sangat anti terhadap agama apa pun. Untuk itulah bekas diktator Irak ini bersikap sangat memusuhi ulama dan pemuka agama. Ia banyak menangkap, memenjarakan, menyiksa dan membunuh ulama. Diantara mereka itu dapat kami sebutkan, Ayatullah Sayid Muhammad Baqir Shadr, Ayatullah Izzawi, Ayatullah Burujerdi, Ayatullah Shadr dan masih banyak lagi. Perlu diketahui bahwa sedemikian bencinya Saddam terhadap Sayid Muhammad Baqir Shadr, sehingga setelah menyiksanya sedemikian hebat, Saddam sendiri yang membunuh tokoh besar dunia Islam ini. Diantara bukti lain kebencian Saddam terhadap agama ialah tekanan yang ia timpakan kepada semua madrasah atau pesantren dan sekolah agama di kota Najaf; sehingga pusat-pusat pendidikan agama ini mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan.

Kejahatan Saddam juga tidak terbatas pada bangsa Irak. Dengan perintahnyalah maka Angkatan Bersenjata Irak mengagresi dua negara muslim tetangganya, yaitu Iran dan Kuwait. Dalam peperangan selama 8 tahun akibat agresi Irak ke Iran, yang dimulai dari tahun 1980, sejumlah besar rakyat kedua negara ini menjadi korban. Dalam perang ini Saddam melakukan berbagai macam kejahatan perang. Ia bahkan menyerang Kereta Api dan pesawat sipil, dan secara terus menerus menggempur kota-kota dengan bom dan rudal-rudal. Yang paling penting dari semua itu ialah bahwa rezim Saddam menggunakan senjata-senjata kimia yang diketahui merupakan bantuan dari negara-negara Barat. Dengan senjata-senjata terlarang ini, ia menyerang bukan hanya tentara militer Iran, tapi warga sipil Iran juga warga sipil Irak sendiri.

Pada tahun 1987, dengan perintah diktator kejam tak berperikemanusiaan ini, tentara Irak menyerang kota Sardasyt, di bagian barat Iran, dengan bom-bom kimia. Serangan kejam ini mengakibatkan syahidnya ratusan warga sipil dan tak kurang pula yang cidera akibat radiasi dan tercemar oleh bahan-bahan kimia. Pada bulan maret tahunberikutnya, Saddam kembali mengeluarkan perintah serangan kimia. Kali ini sebuah kota di Irak, yaitu Halabche, menjadi sasaran kebengisan Fir’aun Irak ini, dan lebih dari 5000 orang tak berdosa gugur syahid dengan sangat mengenaskan. Hingga kini pun, masih ada puluhan ribu orang dari rakyat Irak dan Iran yang menderita berbagai penyakit tak tersembuhkan, dan menanti ajal, akibat senjata-senjata pembunuh masal ini.

Ajaran Al-Quran Al-Karim dengan tegas mengatakan bahwa jika seseorang membunuh satu orang lain tanpa alasan yang membenarkannya, maka pembunuh tersebut harus diqisas, agar menjadi pelajaran bagi orang lain, dalam rangka menciptakan keamanan di tengah masyarakat. Dalam Ayat 179 Surat Al-Baqarah, Allah swt berfirman, "Dan terdapat kehidupan bagi kalian dalam qisas, hai orang-orang yang berakal, agar kalian bertaqwa." Hukuman mati adalah hukum yang sangat kecil bagi Saddam jika dibanding dengan kejahatan-kejahatannya yang sangat mengerikan, yang telah membunuh ratusan ribu manusia tak berdosa, dan dengan cara yang rata-rata sangat kejam dan bengis. Tak diragukan, di dunia akherat pun, telah menunggunya serangkaian hukuman yang berat dan pedih, yang setimpal bahkan lebih dahsyat, karena siksa akherat bersifat kekal bagi manusia-manusia durjana seperti Saddam.

Saddam adalah seorang yang amat sombong dan gila kekuasaan. Ia memiliki kekuasaan yang sedemikian besar, sehingga dapat seenaknya membunuh dan menyiksa siapa pun yang ia kehendaki. Mungkin, karena melihat bahwa sedemikian kuat kekuasaan yang ia miliki, sehingga ia yakin bahwa ia tidak akan mungkin jatuh, dan tak ada siapa pun yang akan mampu menuntutnya untuk mempertanggungjawabkan semua kejahatannya. Akan tetapi telah kita saksikan, bahwa Allah swt, berdasarkan sunnah-Nya yang tak pernah berubah, membiarkannya untuk sementara waktu hingga mencapai puncak kekuasaan tertinggi, lalu secara mendadak menjatuhkannya dari puncak ketinggian ke puncak kehinaan.

Tentu saja rakyat Irak telah membuktikan bahwa mereka memberikan kesempatan kepada penguasa tiran ini untuk membela diri di pengadilan. Akan tetapi kejahatannya yang sedemikian besar dan nyata, sama sekali tidak memberi sedikit pun peluang baginya untuk membela diri. Pada akhirnya, berdasarkan vonis pengadilan, sang raja diraja Irak ini mati tercekik oleh tali tiang gantungan. Akibat politik dan kekuasaannya yang despotik ini pula, kini Irak berada dalam cengkeram an penjajah asing, dan rakyat pun masih saja menanggung berbagai penderitaan. Akan tetapi, naiknya Saddam hingga ke puncak kekuasaan, dan kejatuhannya ke dasar kehinaan, telah memberikan pelajaran kepada para diktator, pendamba kekuasaan, pengobar perang, yang merasa akan senantiasa berkuasa dan berada dan berada di puncak kekuatan. Janji Allah mengatakan bahwa kekuasaan para pemimpin zalim tidak akan bertahan lama.

"Dan orang-orang yang zalim akan mengetahui ke mana mereka akan kembali"

(Asy-Syu’ara: 227)

Source: http://indonesian.irib.ir

wibistudio

Lebanon, Jejak Keruntuhan Imperialisme AS

Saat ini ketika kita mendengar nama Lebanon akan terlintas pula di benak kita tentang perjuangan para pejuang Hezbollah melawan agresi Israel selama 33 hari. Gerakan perjuangan Lebanon yang dipimpin Sayyid Hasan Nasrollah itu berhasil mendepak mundur kekuatan militer yang konon paling berjaya di kawasan. Berita kemanangan Hezbollah pun menggema ke seantero dunia mengingat Rezim Zionis Israel dalam pertempuran di selatan Lebanon mendapatkan bantuan Barat khususnya dari AS dan Inggris. Kekalahan Israel di Lebanon pun mengubah perimbangan kekuatan di Timur Tengah. Mitos kekuatan militer Israel yang konon tak tertandingi pun dinilai sudah kadaluarsa oleh masyarakat regional. Terbukti bahwa Israel yang memiliki mesin-mesin perang super canggih, tak mampu menaklukkan kelompok perjuangan yang bahkan tidak memiliki persenjataan berat. 

Secara keseluruhan, Timur Tengah sedang dilanda instabilitas akibat ulah kaum arogan dan Lebanon menjadi langkah awal runtuhnya imperialisme AS di kawasan. Beberapa waktu lalu, seorang analis Koran Independent terbitan Inggris, Robert Fisk, melontarkan pernyataan yang sangat kontroversial. Ia menekankan soal memudarnya imperialisme AS di Timur Tengah. Fisk memfokuskan hal ini dengan meninjau transformasi yang tengah berlaku di Lebanon. Menurutnya, apa yang tengah terjadi di Lebanon merupakan tahap awal dari ambruknya hegemoni AS kawasan. Fenomena tersebut akan dibarengi dengan pertumpahan darah dahsyat. Lebanon dinilainya sebagai garis besar masa depan Timur Tengah.

Fisk lebih lanjut menjelaskan bahwa selama ini Barat telah mengirimkan ratusan ribu pasukan ke Timur Tengah dan menyuplai senjata dalam kapasitas cukup besar kepada Rezim Zionis Israel. Namun yang terjadi justeru bertentangan dengan target yang diacu Barat. Di Irak, pasukan asing sudah terlanjur terjebak lubang maut, di Afghanistan mereka menjadi bulan-bulanan serangan, Israel kalah telak di Lebanon, sementara Rezim Zionis juga tak mampu menumpas perjuangan warga Palestina.

Krisis politik di Lebanon saat ini juga tak luput dari ulah AS dan Israel. Tak berhasil menaklukkan Hezbollah di medan pertempuran, AS dan Israel menempuh jalur lain. Jika dirunut krisis politik Lebanon bemuara pada tuntutan partai berkuasa negara ini yaitu Aliansi 14 Maret terhadap Hezbollah agar bersedia melucuti persenjatannya. Sebenarnya masalah perlucutan senjata inilah yang diupayakan AS dan Rezim Zionis Israel pasca perang. Hezbollah menentang tuntutan tersebut dan memutuskan menarik empat menterinya dari kabinet Lebanon. Sesuai UUD Lebanon, keputusan pemerintah tidak sah tanpa partisipasi seluruh faksi dalam kabinet. Hezbollah juga menuntut pembentukan pemerintahan persatuan nasional. Artinya, pemerintahan saat ini dinilai mewakili kebijakan Barat dan Israel.

Aliansi 14 Maret dituding sebagai biang krisis politik di Lebanon. Hebollah menyebut Aliansi 14 Maret berupaya mendominasi pemerintahan. Bahkan, kelompok tersebut menentang mediasi Sekjen Liga Arab, Amr Mousa, untuk menyelesaikan krisis negara ini. Usulan Amr Mousa disambut baik oleh kelompok oposisi. Pin-poin yang diusulkan Amr Mousa antara lain, menghindari saling tuduh, menghentikan demo jalanan, menghindari konflik partisan, membentuk pemerintahan nasional bersatu. Prakarsa tersebut ditolak Aliansi 14 Maret. Namun poin yang paling ditentang Aliansi 14 Maret adalah usulan Amr Mousa untuk mengubah komposisi kabinet Lebanon yaitu 19 jabatan menteri akan diserahkan kepada partai berkuasa, 10 menteri dari kelompok oposisi, dan satu menteri dari kelompok independen.

Media massa Barat berupaya mengesankan bahwa aksi demo dan mogok jalanan di Beirut itu hanya dilakukan oleh kelompok Syiah. Padahal selama ini, berbagai kelompok Sunni, Kristen, dan Syiah Lebanon, mengemukakan penentangannya terhadap pemerintah. Jum’at malam pekan lalu, sejumlah ulama Sunni dan Syiah merilis deklarasi yang berisi keterangan bahwa satu-satunya solusi krisis politik Lebanon adalah pembentukan pemerintahan bersatu. Dalam deklrasi itu AS dituding berupaya menyulut fitnah di antara kelompok Lebanon. Barat berusaha menyeret situasi Lebanon hingga ke bibir konflik dan perang saudara seperti yang telah mereka kobarkan di Irak.

Mantan PM Lebanon, Umar Karami, menilai tuntutan kelompok oposisi logis seraya mengatakan, jika Sekjen Liga Arab, Amr Mousa, tidak kembali lagi ke Lebanon setelah usulannya ditolak Aliansi 14 Maret, pihak oposisi akan meningkatkan demo dan aksi mogoknya secara gradual hingga pemerintah bersedia mengubah sikap. Menurutnya, kondisi di Lebanon sudah sedemikian parah sehingga harus segera diputuskan solusi krisis politik ini.

Alhasil, Lebanon kini tengah melewati masa-masa sulit yang apapun hasilnya akan sangat menentukan masa depan negara ini. Di satu pihak, kepongahan partai berkuasa yang terus mengabaikan tuntutan rakyat, dan di pihak lain, kelompok oposisi yang memperjuangkan terbentuknya pemerintahan bersatu. Pada akhirnya, aksi demo dan mogok yang diprakrasai Hezbollah sejak tiga pekan lalu itu, harus dihentikan karena situasi di Lebanon sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi.

Perlu dicermati bahwa dalam krisis tersebut, tak satu pun negara Arab yang ikut membantu menyelesaikan masalah ini. Banyak faktor yang melatarbelakangi hal ini. Namun yang paling penting adalah bahwa masyarakat Lebanon sudah enggan menerima keberadaan pemerintah yang cenderung mematuhi imbauan Barat dan Rezim Zionis Israel. Dan ini sama artinya dengan keluarnya Lebanon dari lingkup imperialisme AS di Timur Tengah. Tak diragukan lagi, langkah serupa akan diikuti oleh masyarakat regional. 

Source: http://indonesian.irib.ir

Di negara-ngara di dunia ini, rakyat datang ke kotak-kotak pemilihan umum untuk memilih anggota parlemen dan presiden mereka. Namun pada tanggal 15 Desember, rakyat Iran datang ke kotak pemilihan umum untuk memilih anggota sebuah lembaga yang istimewa dan tidak ditemukan di negara lain, yaitu lembaga bernama Majlis-e Khubregan atau Dewan Ahli. Berdasarkan UUD Iran, Dewan Ahli memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat besar dan berat.

Rahbar atau Wali Faqih adalah jabatan tertinggi dalam sistem pemerintahan Islam Iran. Rahbar memiliki tanggung jawab dan wewenang yang besar. Dia adalah koordinator dari berbagai lembaga tinggi negara, dan penentu kebijakan umum negara. Selain itu, Rahbar berwenang menetapkan komandan berbagai angkatan bersenjata. Oleh karena itu, sangat wajar bila pemilihan dan pengawasan terhadap jabatan yang sedemikian penting ini adalah pekerjaan yang rumit dan sensitif. Di sisi lain, Rahbar haruslah memiliki sifat-sifat dan keistimewaan yang pengidentifikasiannya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian khusus saja. Seorang Rahbar haruslah mengenal kondisi dunia dan percaturan politik internasional, memahami masalah sosial, ekonomi, dan budaya. Selain itu dia juga harus memiliki keberanian, kemampuan memanajemen negara, adil, bertakwa, dan memiliki pandangan yang benar dan menyeluruh terhadap agama, terutama dalam masalah fiqih dan hukum Islam.

Tidak diragukan lagi, mengenali kepribadian dengan karakterisik yang sangat unggul seperti ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Dengan alasan itulah identifikasi terhadap orang yang memiliki kapabilitas sebagai Rahbar diwakilkan rakyat Iran kepada Majlis-e Khubregan atau Dewan Ahli. Dengan memberikan suara dalam pemilu Dewan Ahli, artinya rakyat memilih wakil-wakil mereka untuk memilih dan mengawasi kinerja Rahbar. Dengan kata lain, anggota Dewan Ahli atau Majlis-e Khubregan adalah pengemban amanat rakyat agar mereka memilih pemimpin yang terbaik bagi rakyat.

Dewan Ahli terdiri dari 86 ulama yang dipercayai oleh rakyat. Para ulama yang dipilih itu haruslah yang sudah mencapai tingkat mujtahid, yaitu menguasai hukum Islam secara sempurna dan dengan demikian mereka bisa mengindetifikasi siapa yang berilmu paling tinggi di antara mereka sendiri. Selain itu para ulama pilihan rakyat sudah barang tentu adalah ulama-ulama yang diyakini rakyat sebagai ulama yang paling jujur, paling dekat dengan rakyat sehingga memahami persoalan masyarakat, dan dengan demikian mereka bisa mengindentifikasi siapa di antara mereka yang paling mampu mengurus negara.

Kepercayaan rakyat Iran kepada para ulama memiliki sejarah yang panjang. Kaum muslimin Iran sejak zaman lampau telah memiliki keterikatan yang erat dengan ulama. Para ulama menjadi tempat bertanya dalam masalah agama dan tempat menyelesaikan masalah-masalah keseharian. Di tengah masyarakat Iran, para ulama berposisi sebagai hakim yang adil dan menjadi tempat rujukan bagi penyelesaian berbagai masalah dalam masyarakat. Sebagian besar dari urusan kemasyarakatan dilakukan melalui musyarawah dengan para ulama. Selain itu, para ulama Iran dalam sepanjang sejarah politik Iran selalu memainkan peran penting dalam perjuangan rakyat melawan kezaliman dan ketidakadilan. Karena itu, sangat alami bila rakyat Iran menyerahkan kepemimpinan tertinggi bangsa kepada seorang Wali Faqih atau Rahbar.

Sebagaimana disebutkan dalam UUD Iran, penetapan Rahbar dan pengawasan kinerjanya, adalah dua kewajiban utama Dewan Ahli. Pada ayat 107 UUD Iran dicantumkan, “Setelah meninggalnya pemimpin besar Revolusi Islam Iran, dan pendiri Republik Islam Iran, Ayatullah Al Uzma Imam Khomeini, yang diterima sebagai marji dan pemimpin oleh mayoritas rakyat,  tugas untuk memilih Rahbar harus dilakukan oleh para ahli (ulama) yang dipilih oleh rakyat. Para ahli (ulama) akan bermusyawarah di antara mereka dengan memperhatikan kualifikasi sebagaimana disebutkan pada pasal 5 dan 109. Jika mereka menemukan bahwa di antara mereka ada yang memiliki keunggulan hukum Islam, atau fiqih, atau isu politik dan sosial, atau memiliki popularitas umum, atau keunggulan untuk salah satu kualifikasi yang disebutkan di pasal 109,  mereka harus memilihnya sebagai Rahbar. Jika tidak ditemukan salah seorang yang paling unggul, mereka harus memilih dan mendeklarasikan salah satu dari mereka sebagai Rahbar…. Rahbar memiliki posisi yang setara dengan rakyat negara ini di hadapan hukum.”

Ketika Republik Islam Iran didirikan tahun 1979, Wali Faqih atau Rahbar Republik Islam Iran dijabat oleh Imam Khomeini. Setelah beliau meninggal dunia, Dewan Ahli segera mengadakan sidang dan memilih Rahbar baru, yaitu Ayatullah Khamenei. Dengan demikian, negara Iran yang saat itu sedang berada dalam krisis besar dan dikepung musuh-musuh anti revolusi Islam, bisa terselamatkan dari kekosongan kepemimpinan.

Selain bertugas memilih Rahbar, Dewan Ahli juga bertugas untuk mengawasi Rahbar agar tetap menjalankan tugas-tugasnya sesuai dengan undang-undang, dan tetap memiliki  karakteristik yang wajib dimilikinya sebagai Rahbar. Hal ini dicantumkan dalam pasal 111 UUD RII. Bahkan ketika di kemudian hari diketahui bahwa sejak awal ada beberapa karakterisik yang tidak dimiliki oleh Wali Faqih terpilih, Dewan Ahli memiliki kewajiban untuk menurunkan Wali Faqih dari jabatannya dan menggantikannya dengan orang lain yang lebih memenuhi syarat.

Jika Rahbar meninggal dunia atau tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, atau karena alasan-alasan lain dipandang tidak memenuhi syarat lagi sebagai Rahbar, Dewan Ahli akan membentuk sidang dan menentukan Rahbar pengganti.

Dengan adanya pengawasan dari Dewan Ahli ini, meskipun Wali Faqih  memiliki kekuasaan yang sangat besar dalam mengatur haluan negara, namun dia senantiasa akan dibatasi oleh pengawasan Dewan Ahli sehingga tidak bisa menyelewengkan kewenangan dan kekuasaannya itu. Dengan pemilu Dewan Ahli, artinya rakyat berperan aktif memilih wakil-wakilnya untuk duduk di Dewan Ahli yang akan memilih Rahbar dan mengawasi kinerjanya.

Source: http://indonesian.irib.ir

wibistudio

Kekuatan Pertahanan Iran di Mata Dunia

Flag1 Latihan atau manuver militer kedua dengan nama sandi "Rasul Yang Mulia", pada hari Kamis lalu, dimulai dengan memamerkan kemampuan satuan-satuan rudal Sepahe Pasdaran atau "Pasukan Garda" Revolusi Islam. Manuver ini diprogram berdasarkan strategi militer Iran dan dengan tujuan meningkatkan kekuatan pertahanan dan antisipasi serangan musuh-musuh ekstra regional.  Jenderal Sayid Yahya Rahim Safawi, Panglima Pasukan Pasdaran, di awal manuver ini, dalam sebuah konferensi pers menjelaskan berbagai perincian berkaitan dengan peralatan yang digunakan serta tujuan-tujuan manuver Rasul Yang Mulia ini. Sejak hari pertama, berita tentang manuver ini menempati deadline atau berita utama di berbagai lembaga politik serta media massa internasional dan regional. Mereka ini menganalisanya sesuai dengan sudut pandang dan tujuan-tujuan politik mereka, yang akan kami uraikan lebih lanjut, setelah ini.

Manuver besar "Rasul Yang Mulia" adalah salah satu manuver yang dilakukan sepenuhnya hanya oleh pasukan Pasdaran, yang menjadikan manuver ini sebagai ajang uji coba berbagai macam roket dan rudal balistik buatan RII. Berbagai taktik khusus unit-unti rudal Pasukan Pasdaran, dengan alat peluncur dalam jumlah besar dan berfariasi untuk menembakkan rudal-rudal jarak jauh dan jarak menengah, yang telah dioperasikan pada tiuga hari pertama dalam manuver militer ini, membuktikan adanya kreatifitas dan inofasi yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Iran dalam memproduksi dan menggunakan peralatan pertahanan moderen. Peralatan dan perlengkapan ini diproduksi oleh para pakar dan cendekiawan di dalam negeri, dan sebagiannya unik serta khas Iran.

Poin penting lainnya ialah bahwa peralatan dan perlengkapan yang sebagiannya telah digunakan di hari kedua manuver militer ini, dirancang dan diproduksi oleh Iran dalam kondisi dimana negara ini berada dalam embargo militer sepenuhnya oleh AS dan Eropa. AS mengetahui dengan baik bahwa tekanan-tekanan tanpa henti mereka terhadap RII, dan dukungan mereka terhadap rezim Saddam selama perang yang dipaksakan, telah menyebabkan peningkatan industri pertahanan militer Iran, yang ternyata mampu bersandar kepada kemampuan dan fasilitas dalam negerinya. Karena menghadapi embargo militer dari Barat, maka Iran terpaksa berupaya keras memenuhi keperluan militer dan pertahanannya dengan bersandar kepada kemampuan dan keahlian para pakar dari dalam negeri.

Dengan demikian, kekuatan-kekuatan rudal dan pertahanan udara serta semua peralatan militer untuk menghadapi segala bentuk serangan militer klasik dari kekuatan-kekuatan ekstra regional, telah diproduksi di dalam Iran dan didukung oleh sumber-sumber yang tak ada habisnya dari dalam bangsa Iran, sehingga tak ada embargo apa pun yang mampu mengganggunya. Untuk itulah AS dan Eropa tidak pernah berhasil memasukkan pengaruh menentukan atau melemahkan kemampuan pertahanan Iran. Berbagai macam jenis rudal moderen yang diujicoba dan dipamerkan oleh Pasukan Pasdaran dalam manuver "Rasul Yang Mulia", memiliki kemampuan menghancurkan sasaran-sasaran di perairan Teluk Persia dan kawasan-kawasan yang lebih jauh lagi.

Jenderal Rahim Safawi, Panglima Pasdaran, dalam wawancara dengan jaringan berita Al-Alam, menyinggung kehadiran pasukan-pasukan asing di kawasan dan ancaman-ancaman mereka terhadap Iran, baik secara eksplisit maupun implisit. Beliau berkata, "Menurut saya jauh sekali kemungkinannya bahwa negara-negara Barat akan menciptakan kesulitan bagi Iran. Karena mereka mengetahui bahwa pasukan mereka yang berada pada jarak 2000 km, kemungkinan akan menghadapi bahaya besar." Panglima Pasadaran ini juga menekankan bahwa negara-negara Barat menyadari parahnya kondisi kawasan ini. mereka juga memahami bahwa Iran memiliki kesiapan penuh untuk membela integritas teritorialnya.

Pasukan-pasukan Angkatan Darat, Udara dan Laut Pasadaran dan Pasukan Basij, ikut ambil bagian dalam manuver militer kedua ini. kawasan operasi manuver militer ini, mencakup perairan Teluk Persia dan Laut Omman, juga sejumlah propinsi bagian selatan, timur dan barat Iran. Latihan militer pasukan Pasdaran, berlawanan dengan propaganda yang ditiupkan oleh para pejabat politik-militer dan berbagai media massa Barat, sama sekali bukan merupakan ancaman bagi negara-negara regional. Bahkan ia menunjukkan urgensi kerjasama kolektif untuk memenuhi keamanan kawasan. Jika diperlukan maka kekuatan militer dan pertahanan RII dapat dianggap sebagai tangan yang kokoh bagi muslimin di seluruh dunia, terutama negara-negara Islam Timur Tengah dan Teluk Persia.

Meski dikelilingi oleh berbagai propaganda beracun Barat, tak satu pun negara kawasan ini yang memandang manuver ini sebagai ancaman bagi mereka, bahkan mereka memandangnya sebagai usaha Iran untuk menjawab ancaman-ancaman militer AS. Untuk itulah sejumlah besar negara-negara Teluk Persia tidak bersedia berpartisipasi, meski secara simbolik, bersama AS dalam gerak-gerik negara adidaya ini di Laut Omman dan Teluk Persia. Dengan demikian praktis mereka telah menunjukkan ketidaksediaan mereka untuk bergerak selangkah dengan AS dalam menekan Iran. Manuver "Rasul Yang Mulia" mengirimkan pesan penting kepada kekuatan-kekuatan ekstra regional, yang selama ini selalu memamerkan politik kolonialisme dan agresifisme, dalam menginjak-injak kemuliaan negara-negara kawasan ini.

Memang manuver militer ini merupakan ancaman, akan tetapi ancaman bagi AS dan sejumlah sekutunya, dimana segala bentuk agresi mereka terhadap Iran, pasti akan mendapatkan dengan tegas dan kuat dari Iran. Sejak pengumuman resmi dimulainya manuver militer ini, berbagai media massa regional dan internasional, berusaha mengaitkan manuver ini dengan gerak-gerik militer AS dan beberapa negara Barat di kawasan, dan berusaha menampilkan manuver militer ini sebagai reaksi atas aksi-aksi terakhir AS. Akan tetapi menurut Panglima Pasdaran, yang disebut oleh AS sebagai manuvernya yang ia lakukan di Teluk Persia, sama sekali tidak memiliki nilai militer. Selain itu, manuver besar "Rasul Yang Mulia" sudah diprogram sejak lama sebelumnya dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan gerak-gerik AS, beberapa hari terakhir, di kawasan.

Dalam peristiwa perang yang dipaksakan, yaitu agresi Saddam terhadap RII, AS meningkatkan kehadiran kapal-kapal perangnya di Teluk Persia dalam rangka mendukung rezim Irak saat itu. Saat ini AS menempatkan lebih dari 110 unit kapal perang dari berbagai jenis di Teluk Persia. Selama perang yang dipaksakan, meski AS menghadirkan pasukannya dalam julah besar di Teluk Persia, tapi mereka tidak mampu bahkan dalam menjaga keamanan kapal-kapal perang mereka sendiri, dan beberapa dari kapal tersebut menjadi sasaran berbagai serangan, sementara sebagian yang lain hancur karena menabrak ranjau-ranjau yang menebar dan hanyut di Teluk Persia. Untuk itu dapat dipastikan bahwa penegakan keamanan dan stabilitas di kawasan Teluk Persia yang sangat sensitif dan strategis ini, bukanlah dengan memiliterisasi kawasan ini. Akan tetapi, cara-cara politik, keluarnya pasukan asing serta pemenuhan stabilitas dan keamanan kawasan ini adalah jalan yang paling tepat untuk mencapai tujuan ini.

Melihat semua permasalahan tersebut, maka manuver kedua Pasukan Pasdaran atau Garda Revolusi Islam, selain memamerkan kemampuan dan kekuatan pertahanan RII, juga menyampaikan pesan khususnya kepada negara-negara Teluk Persia dan Timur Tengah, serta negara-negara di luar kawasan ini. secara fundamental, kemampuan pertahanan Iran adalah untuk menjaga integritas tanah air dan kemerdekaannya. Akan tetapi ia juga dapat berperan sebagai penjaga keamanan negara-negara Teluk Persia, terutama melalui kerjasama kolektif. Manuver besar militer RII dengan nama Sandi "Rasul Yang Mulia" juga menunjukkan bahwa kemampuan pertahanan Angkatan Bersenjata Iran, telah berhasil mencapai berbagai kemajuan dengan hasil kerja putra-putranya sendiri. Mereka inilah yang telah menciptakan RII dengan kekuatan yang mampu menangkis bahkan membalas kekuatan manapun yang berani mencoba bermain api dengannya.

Sumber: http://indonesian.irib.ir

wibistudio

Menatap Wajah Hezbollah dari Iran

SEJAK meletusnya perang di Libanon, suasana perang amat terasa di Iran, terutama jika kita banyak menonton televisi. Betapa tidak, tiap sebentar diputar filler (film pendek) berisi adegan-adegan perang, dilatarbelakangi lagu-lagu heroik berbahasa Arab. Pidato Sayid Hasan Nasrullah, pemimpin Hizbullah Libanon, yang berisi ancaman-ancaman terhadap Israel disiarkan live atau siaran tunda. Laporan-laporan reporter televisi Iran disampaikan secara live dari Libanon, bahkan ada reporter yang melaporkan kondisi terakhir dengan diiringi suara bom beruntutan dan asap hitam di belakang punggungnya. Setiap hari, berita channel satu pukul sembilan malam akan dimulai dengan kalimat, "Perjuangan hari kesekian (ketiga.. ke sembilan..ke duapuluh)…" lalu mengabarkan kondisi terbaru di medan perang.

Pemerintah Mesir, Arab Saudi, dan Jordan menyebut Hizbullah sebagai pengacau dan pencari gara-gara. Rezim Israel, AS, Inggris, dan Kanada menyebutnya sebagai teroris. AS sejak dulu sudah menaruh Hizbullah dalam daftar organisasi-organisasi teroris dunia, setara dengan Al Qaida. Tapi, melihat Hizbullah dari Iran, kita akan menemukan wajah yang berbeda. Foto-foto Sayyid Hasan Nasrullah dipajang di berbagai sudut jalan. Di televisi ditampilkan rekaman demonstrasi-demonstrasi yang berlangsung di berbagai penjuru dunia dengan membawa-bawa bendera Hizbullah dan foto Hasan Nasrullah. Demonstrasi mendukung Hizbullah tidak hanya terjadi di Iran dan negeri-negeri Arab, melainkan juga di Amerika, Australia, Belgia, Perancis, Argentina, Turki, dan lain-lain. Hizbullah kini seolah menjadi icon baru perlawanan terhadap kekejaman Israel. Ketika dunia Islam hanya mampu memberi reaksi seputar resolusi atau demonstrasi, Hizbullah maju dengan senjata.

Siapa Hizbullah sesungguhnya? Organisasi militer ini dibentuk pada tahun 1982, diarsiteki beberapa orang asal Iran, antara lain Doktor Chamran, ahli fisika nuklir Iran. Tujuan pendirian Hizbullah adalah dalam rangka membebaskan kawasan Libanon selatan yang dicaplok oleh Israel pada tahun 1978. Organisasi ini punya cara kerja yang unik. Di satu sisi memperkuat kemampuan militer, di sisi lain, mereka juga berjuang dalam bidang sosial. Mereka membangun rumah sakit, sekolah, fasilitas umum, dan menanggung kehidupan anak-istri dari pejuang yang tewas dalam perang.

Pada tahun 2000, akhirnya Hizbullah berhasil mengusir keluar tentara Israel dari wilayah Libanon selatan, meski hanya dengan bekal senjata minim dan tanpa dukungan dari pemerintah Libanon sendiri. Kemenangan besar ini membuat kharisma Hizbullah semakin mencuat di Timur Tengah, terutama di tengah bangsa Libanon sendiri. Apalagi, sikap para pemimpin Hizbullah yang tidak ambisius mengejar karir politik, membuat para politikus elit di Libanon sama sekali tidak merasa terancam oleh keberadaan organisasi militer independen ini.

Bahkan, ketika AS dan sekutu-sekutunya menekan pemerintah Libanon agar melucuti senjata Hizbullah, Presiden Libanon, Emil Lahoud berkata, "Bagi bangsa kami, Hizbullah adalah gerakan perjuangan pertahanan nasional dan tanpa mereka, kami tidak akan berhasil membebaskan wilayah kami. Karena itu, kami sangat menghargai gerakan Hizbullah." Besarnya dukungan rakyat Libanon terhadap Hizbullah tampak jelas ketika pada 8 Maret 2005 hampir dua juta massa menyambut seruan Sayid Hasan Nasrullah. Pada hari itu, alun-alun Riyadh al-Shulh, Beirut, menjadi panggung demonstrasi akbar anti Amerika dan Zionis, serta dukungan kepada Hizbullah.

Meski tentara Zionis sudah terusir dari seluruh wilayah Libanon –kecuali kawasan Shab’a– pada tahun 2000, Hasan Nasrullah berjanji bahwa ia akan mengembalikan semua pejuangnya yang ditawan Israel ke pangkuan keluarga mereka masing-masing. Pada tahun 2004, pemimpin Hizbullah itu berhasil memenuhi sebagian janjinya dengan cara pertukaran tawanan, 400 tahanan Palestina dan 59 pejuang Hizbullah ditukar dengan seorang bisnismen Israel, Elhanan Tennenbaum, dan 3 jasad tentara Israel. Hari Rabu (12/7) pasukan Hizbullah menyerang kawasan Shab’a milik Libanon yang masih dikuasai Israel. Dalam serangan ini, Hizbullah berhasil menewaskan beberapa tentara Israel dan menawan dua lainnya.

Sebagaimana sebelumnya, Hizbullah kali ini juga menuntut dilakukannya pertukaran tawanan, yaitu dengan 8000 tahanan Palestina dan 5000 tahanan Libanon yang kini menderita penyiksaan di penjara-penjara Israel. Namun kali ini, Israel membalasnya dengan gempuran membabi-buta. Analis militer Iran menyatakan, cepatnya reaksi Israel itu menunjukkan bahwa sebelumnya Israel memang sudah bersiap-siap untuk menyerang, hanya menunggu momen yang bisa dijadikan dalih di depan opini dunia. Ketika serangan tentara Zionis semakin membabi-buta dan dunia menuntut diadakannya gencatan senjata, AS malah menggunakan hak vetonya untuk menghalangi. Masih menurut analis militer Iran, sesungguhnya serangan Israel itu termasuk dalam program AS untuk melucuti Hizbullah dan menduduki Libanon. Direncanakan, serangan itu hanya akan memakan waktu empat hari.

Namun, AS, Israel, dan dunia tekejut melihat bahwa Hizbullah berhasil mempertahankan wilayahnya meski perang telah berlangsung 20 hari (saat tulisan ini dibuat). Kekuatan persenjataan dan terorganisirnya serangan Hizbullah tak urung membuat Israel dan dunia terperangah. Meski hanya bersenjatakan roket, tanpa tank, helikopter, pesawat F-16, kapal perang, atau artileri, Hizbullah berhasil menembak jatuh pesawat F-16, kapal perang, dan terakhir (31/7) bahkan menghancurkan kapal induk Israel. Hujan roket Hizbullah bahkan berhasil menghancurkan berbagai kota Israel, di antaranya Haifa, yang jaraknya 50 kilo dari perbatasan Libanon.

Dalam sepanjang sejarah berdirinya negara illegal Israel, belum pernah ada serangan yang berhasil menembus kota-kota utamanya. Tak heran hal ini membuat warga Israel sangat ketakutan. Segera mereka berdemo meminta dihentikannya perang. Anggota parlemen Israel pun bertengkar, sebagian menghendaki perang dihentikan, sebagian menuntut dilanjutkannya perang. Eksodus besar-besaran warga Israel ke luar negeri terjadi, sampai-sampai pemerintah Zionis meminta negara-negara asing agar tidak memberi visa kepada warga Israel yang ingin kabur itu. Tak hanya warga yang ketakutan, koran Kayhan terbitan Iran pun beberapa hari yang lalu memasang foto-foto polisi Israel yang menangis ketakutan di tengah gempuran Hizbullah di kota Haifa.

Sebaliknya, Hizbullah tampil dengan sangat percaya diri. Saya sempat menyimak pidato Sayyid Hasan Nasrullah yang disiarkan live oleh televisi Iran dan beberapa jaringan televisi internasional. Yang paling nyelekit dari pidatonya itu, "Kami tidak butuh bantuan dari manapun. Kami bisa mempertahankan negeri kami sendiri. Kami hanya meminta bantuan dari Allah. Kalian wahai pemimpin bangsa Arab, pikirkanlah nasib kalian sendiri. Pikirkanlah akhirat kalian, bila kalian memang percaya pada akhirat. Pikirkanlah, bagaimana kalian mempertanggungjawabkan sikap kalian yang berdiam diri di depan kezaliman ini." Pidato ini ditujukan kepada Liga Arab yang sebelumnya (15/7) mengadakan sidang di Kairo. Sidang itu tidak menghasilkan apapun, selain kecaman terhadap Israel atas serangannya ke Palestina dan Libanon.

Setiap kali ada battle (perang) sengit dan posisi Hizbullah kritis, organisasi militer ini mengirim surat resmi ke Iran, meminta diadakan majelis doa Jausyan-Shaghir (jausyan=pakaian perang shaghir=kecil). Dan, berbagai majelis doa pun digelar. Orang-orang Iran menangis tersedu-sedu membaca doa yang berisi harapan agar Allah melindungi kaum muslimin dari bahaya itu. Tak lama kemudian datang kabar bahwa Hizbullah memenangkan battle itu.

Terakhir, di televisi ditampilkan pula adegan orang-orang Israel yang kalang kabut, berlarian ke bunker. Yang tragis, justru polisi dan tentara Israel pun tampak ikut berlarian ke dalam bunker. Diberitakan, dalam 24 jam, polisi-polisi yang seharusnya menjaga kemanan warga itu hanya keluar dari bunker selama 2 jam, untuk mengambil persediaan makanan. Fakta ini benar-benar menunjukkan kepengecutan mental tentara Israel. Selain itu, juga membuktikan kata-kata Ahmadinejad, bahwa sebuah bangsa tidak perlu senjata nuklir untuk membela dirinya. Yang diperlukan adalah mental kuat bangsa itu sendiri. Terbukti, tentara Israel yang memiliki 200 hulu ledak nuklir malah lari pontang-panting ketika dilempari roket dan kalah telak dalam pertempuran darat. Yang berani mereka lakukan hanya menggunakan pesawat untuk menjatuhkan bom-bom ke berbagai desa dan kota, membunuh rakyat sipil, termasuk perempuan dan anak-anak tak berdosa.

Penulis: Editor dan Penyiar Radio berbahasa Indonesia (IRIB Islamic Rep. of Iran Broadcasting)

Catatan: Pernah dimuat di Padang Ekspres 3/8, dan telah diedit seperlunya

Panglima Garda Revolusi Islam Iran, Pasdaran atau IRGC, Mayjen Yahya Rahim Safavi, dalam wawancara dengan TV al-Alam kembali menjelaskan tujuan dari latihan perang IRGC bersandi Rasul Yang Mulia II. Selain itu, dia juga menegaskan bahwa negara-negara tetangga Iran adalah negara-negara sahabat, dan bahwa musuh mereka juga merupakan musuh Iran.

Safavi mengatakan, “Pihak-pihak musuh yang berusaha mengacaukan keamanan kawasan Timur Tengah melalui perairan telah menerima dengan baik pesan yang disampaikan oleh latihan perang Rasul Yang Mulia.” Menurut Safavi, kekuatan pertahanan yang didemonstrasikan Iran adalah penegasan atas tekad nasional bangsa Iran dalam mempertahankan negaranya yang berasaskan Islam. Dengan latihan perang di perairan Teluk Persia, Iran dapat menguji dengan baik kekuatan pertahanannya.

Dewasa ini, Iran tercatat sebagai satu diantara 11 atau 12 negara dunia yang memiliki teknologi pembuatan rudal supermodern. Latihan perang pertama bersandi Rasul Yang Mulia digelar awal-awal tahun ini dengan misi yang sama yaitu, menguji dan meningkatkan kekuatan defensif. Dari segi penjadwalan, latihan perang Rasul Yang Mulia tidak memiliki ketentuan-ketentuan waktu yang tetap. Sebaliknya, latihan perang itu bisa dilakukan seketika sesuai keadaan.

Dalam latihan perang kali ini, Pasdaran diisukan media Barat sedang meladeni unjuk kekuatan AS dan para sekutunya yang dilakukan dengan menggelar latihan perang di perairan Teluk Persia dan Laut Oman. Alasannya, latihan perang IRGC dimulai hanya selang beberapa hari setelah latihan perang AS Cs tersebut.  Tetapi menurut Panglima IRGC, latihan perang AS Cs dengan dalih mengantisipasi serangan teroris bukanlah peristiwa yang signifikan di mata Iran, dan karena itu  manuver militer Rasul Yang Mulia II sama sekali tidak memiliki korelasi apapun dengan manuver AS Cs.

Dalam doktrin Iran,  keamanan regional Teluk Persia hanya bisa ditegakkan dengan mengandalkan daya pertahanan negara-negara kawasan ini sendiri. Ini tentu merupakan antitesis dari doktrin keamanan yang dipaksakan Barat dan –naifnya- diterima negara-negara Arab Teluk Persia, yaitu mengundang kekuatan militer asing. Bagi Iran, ketegangan di Teluk Persia hanya akan reda jika pasukan asing keluar dari Irak, Afghanistan, kawasan Teluk Persia, dan Laut Oman.

Iran menilai keberadaan pasukan asing sudah terbukti menimbulkan berbagai dampak destruktif bagi masyarakat regional, baik secara politik dan keamanan maupun secara sosial, kultural, dan lingkungan hidup. Sebagai ganti keberadaan pasukan asing, Iran mendesak semua negara terkait di kawasan untuk menghidupkan potensi pertahanan mereka sendiri sambil menggalang rasa saling percaya. Iran percaya bahwa ini jauh lebih realistis daripada doktrin keamanan yang berorientasikan kekuatan asing, apalagi yang jelas-jelas ambisus dan antagonis.

Sumber: http://indonesian.irib.ir

wibistudio

Bangsa Iran dan Vonis Mati Saddam

Vonis hukuman gantung diktator Irak terguling Saddam Hossein memberikan arti tersendiri bukan hanya untuk bangsa Irak, tetapi juga juga untuk bangsa Iran. Sebagaimana rakyat Irak sendiri, rakyat Iran yang tadinya juga harap-harap cemas mengikuti proses pengadilan Saddam yang bertele-tele akhirnya bisa menghela nafas panjang, meskipun tak sepenuhnya plong, setelah vonis mati tersiar.

Delapan tahun diperangi tentara Saddam adalah peristiwa yang tak terlupakan bagi bangsa Iran. Hanya karena sosok ambisius Saddam, ratusan ribu nyawa warga Iran melayang di tangan pasukan rezim Ba’ath Irak yang menginvasi wilayah Iran pada dekade 1980-an. Selain itu, ratusan ribu warga Iran menderita luka dan negara ini juga terpaksa menanggung kerugian perang lebih dari 100 milyar US Dolar. Sebagai salah satu korban utama kedurjanaan Saddam, sangat wajar apabila Iran ikut menyambut baik putusan mahkamah Irak. Hanya saja, karena rezim Saddam menumpuk kejahatan tidak sendirian melainkan didukung oleh sejumlah kekuatan besar Barat, Iran tentu memiliki catatan sendiri untuk vonis mati Saddam.

Karena itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Mohammad Ali Hosseini saat menyatakan sambutan positif Iran atas vonis Saddam juga mengingatkan bahwa bangsa Iran masih menuntut keadilan atas hak-haknya. Kata Hosseini, sebagai pihak yang menjadi korban antagonisme Saddam, Iran sudah mempersiapkan sejumlah langkah hukum dan politik untuk diajukan kepada institusi yang berwenang mengusut dan mengadili Saddam. Langkah Iran itu sebagian besar merupakan respon atas pengaduan-pengaduan masyarakat Iran yang menjadi korban.

Banyak hal yang diadukan masyarakat Iran. Diantaranya menyangkut penggunaan bom kimia yang diperoleh Saddam dari negara-negara Barat, serangan ke rumah-rumah warga sipil, penghancuran prasarana ekonomi, penculikan, penyiksaan tawanan perang, dan kerugian perang yang ditaksir para pakar PBB sebesar lebih 100 milyar US Dolar. Namun begitu, pengaruh asing di Irak menjadi dinding tebal bagi tuntutan bangsa Iran. Ini terjadi karena respon atas tuntutan Iran memiliki efek karambol yang dapat membongkar aib Barat, terutama AS, di balik kajahatan rezim Saddam.

Orang semisal Menhan AS Donald Rumsfeld sudah tentu tidak ingin aibnya terbongkar habis di mata publik internasional. Dia tidak ingin, misalnya, tuntutan Iran itu mencecar lagi di depan dunia dan sejarah untuk apa Rumsfeld menjumpai Saddam di Baghdad pada pertengahan dekade 1980-an kalau bukan untuk menyokong invasi Saddam ke Iran. Dia tidak ingin dunia tahu persis bahwa setelah kedatangannya ke Baghdad sebagai utusan khusus Presiden AS itu, Washington menyuplai Irak dengan bahan dan fasilitas pembuatan bom kimia serta menjanjikan kemenangan rezim Saddam atas Iran. Atas dasar ini, vonis mati Saddam lewat kasus Dujail, meskipun disambut Iran, tetapi juga sangat melegakan AS.

Sumber: http://indonesian.irib.ir

Next »